Lompat ke isi utama

Berita

Kampanyekan Kolom/Kotak Kosong Dalam Pemilihan 2024 Dibolehkan Asal Tidak Difasilitiasi Oleh Negara

Ketua Bawaslu RI Rahmat Bagja berikan sambutan pada Pembukaan Rapat Koordinasi Nasional (Rakoornas) Evaluasi Kelembagaan Pengawas Pemilu dalam Pengawasan Pemilu 2024 dan Kesiapan Pemilihan Serentak 2024, Sabtu (28/9/2024).

Ketua Bawaslu RI Rahmat Bagja berikan sambutan pada Pembukaan Rapat Koordinasi Nasional (Rakoornas) Evaluasi Kelembagaan Pengawas Pemilu dalam Pengawasan Pemilu 2024 dan Kesiapan Pemilihan Serentak 2024, Sabtu (28/9/2024).

Bali, Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kabupaten Bekasi - Bawaslu Kabupaten Bekasi hadiri Rapat Koordinasi Nasional (Rakoornas) Evaluasi Kelembagaan Pengawas Pemilu dalam Pengawasan Pemilu 2024 dan Kesiapan Pemilihan Serentak 2024 yang di gelar Bawaslu RI di Bali pada tanggal 28 s.d 30 September 2024.

Dalam sambutannya Ketua Bawaslu Republik Indonesia Rahmat Bagja menilai mengkampanyekan kolom/kotak kosong dalam Pemilihan 2024 dibolehkan asal tidak difasilitiasi oleh negara. Dia turut meminta para pengawas pemilu untuk menyosialisasikan aturan kampanye pemilihan yang diikuti oleh satu pasangan calon (paslon) atau melawan kotak kosong sesuai Peraturan KPU Nomor 13 Tahun 2024 tentang kampanye.

Bagja memandang fenomena satu paslon melawan kotak/kolom kosong, itu berarti ada dua pilihan bagi masyarakat untuk menggunakan hak pilihnya.
"Pengawas pemilu harus menyosialisasikan sesuai dengan PKPU kampanye. Jika ada kolom kosong, itu ada pilihan. (Masyarakat bisa) pilih yang paslon itu atau juga (bisa memilih) kolom kosong itu," cetus Bagja dalam Koordinasi Nasional Evaluasi Kelembagaan Pengawas Pemilu dalam Pengawasan Pemilu 2024 dan Kesiapan Pemilihan Serentak 2024 di Bali, Sabtu (28/9/2024).

Magister hukum lulusan Utrecht University itu menyatakan fenomena kotak/kolom kosong dalam pemilihan tidak boleh dinafikan. Menurut dia, fenomena kotak kosong merupakan refleksi kritis terhadap daerah dan partai politik yang memunculkan paslon tunggal.
Bagja juga menilai fenomena pemilihan yang diikuti oleh satu paslon bisa meningkatkan eskalasi politik uang. Maka dari itu dia meminta para pengawas pemilu yang daerahnya terdapat satu paslon untuk melakukan pengawasan dengan cermat.

#AyoAwasiBersama
#PemilihanSerentakTahun2024

Editor : Lisna Trisnawati